IDI Cab Kab Sampang Menolak Kriminalisasi Dokter

Puluhan dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Sampang, melakukan aksi di Monumen Kota setempat, Rabu (20/11) pukul 09.00 WIB. Aksi itu sebagai wujud simpatik atas kriminalisasi terhadap dokter di Manado.

Sebanyak 50 dokter mengikuti aksi tersebut di depan Monumen Trunojoyo Sampang. Aksi tersebut merupakan instruksi Pengurus Besar (PB) IDI kepada seluruh pengurus IDI di tingkat kabupaten. Dalam aksinya, mereka menolak tegas kriminalisasi dokter oleh siapapun dan dalam bentuk apapun.

Pantauan Koran Madura, dalam aksinya itu para dokter menggunakan seragam baju putih dan mengenakan masker, menuntut agar proses hukum terhadap dokter di Manado dikembalikan kepada Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) dan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK).

Koordinator aksi, dr. Yuliono, mengatakan, semua nama dokter menuntut terhadap pemerintah pusat maupun daerah untuk memberikkan jaminan keamanan kepada para dokter dalam menjalankan tugasnya. “Kami menuntut tegas agar memberikan jaminan keamanan saat menjalankan tugas sesuai dengan prosedur kami kepada pemerintah pusat baik itu daerah juga,” ucap pria yang juga sebagai Humas RSUD Sampang.

Pihaknya juga mengajak kepada elemen masyarakat untuk bersama-sama menjunjung tinggi nilai luhur dan mulia dalam menjalankan tugas sebagai dokter dengan bekerjasama atas dasar sumpah dokter. “Kami ini dokter bukan pembunuh. Maka itulah mengajak kepada elemen masyarakat agar bisa menjunggjung tinggi nilai luhur dalam menjalani tugas dokter,” jelasnya.

Puluhan dokter tersebut tak hanya berorasi dengan aksi simpatik. Mereka juga membentangkan spanduk bertulisan: “Dokter Mengutamakan Keselamatan”, “Dokter bukan Pembunuh”, serta tuntutan lainnya agar memberikan jaminan keamanan.

Tak hanya itu, aksi dokter itu sempat menjadi pusat perhatian pelintas jalan di Jalan Trunojoyo tepatnya di Monumen Sampang. Apalagi, puluhan dokter juga memberikan selembaran pernyataan sikap terhadap pelintas jalan.

Ketua IDI Cabang Sampang Indah Nur Susanti menuturkan, hal ini dilakukan tentu sebagai pemicu untuk mengkondisikan selaku profesi kedokteran lebih tenang dalam mengimplementasikan keahlian dokter di setiap pelayanan kepada pasien. “Kami dokter hanya memberikan pelayanan pertolongan kepada pasien yang membutuhkan kalau ada kehendak di luar kemampuan kami sebagai dokter kita serahkan kepada yang di atas (Tuhan), karena dokter bukan Tuhan,” katanya.

Ditambahkan Indah, dirinya berharap apabila ada sesuatu yang tidak berkenan dan kurang sesuai harapan, pasien tidak harus dengan menjustifikasi. Apalagi, jika berkaitan dengan profesi dokter yang bekerja sepanjang profesi sesuai standar yang dilakukan maka jangan dipandang segi negatif saja melainkan hal yang positif.

“Kami jangan dinilai kalau dokter sebagai pembunuh pasien maupun merugikan. Bagaimana pun juga dokter bekerja untuk menyembuhkan pasien bukan niat membunuh pasien-pasien kami. Oleh karena itu, kami menentang adanya kriminalisasi dokter agar semua masyarakat bisa memahami untuk mengetahu jeritan kami juga,” ungkapnya.

Sebelumnya, tahun 2011 majelis hakim Pengadilan Negeri Manado menjatuhkan vonis bebas terhadap tiga dokter kandungan yaitu, dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani, dr. Hendry Simanjuntak dan dr. Hendy Siagian.

Namun PK Mahkamah Agung justru menyatakan bahwa, tiga dokter tersebut bersalah melakukan malpraktik terjadap pasien Julia Fransiska Makatey. Akibat vonis tersebut izin praktek ketiga dokter tersebut saat ini dicabut.

Leave a Reply

Your email address will not be published.