IDI CABANG KABUPATEN BEKASI MENOLAK KRIMINALISASI DOKTER

Menyikapi kasus yang menimpa 3 orang dokter spesialis kebidanan dan kandungan di Manado, Sulawesi Utara, yang dipidana penjara 10 bulan penjara oleh putusan kasasi MA, maka Ikatan Dokter Indonesia cabang kabupaten Bekasi berkumpul dan menyatakan sikap menolak kriminalisasi dokter (19/11).

Dokter obsgyn yang dipidana tersebut dituduh melakukan malpraktik sehingga pasiennya meninggal dunia pada saat menjalani operasi Sectio caesaria.  Dalam sidang pengadilan tingkat pertama di pengadilan negeri Manado, ketiga dokter tersebut telah di vonis bebas murni berdasarkan bukti medis dan keterangan saksi ahli yang menyebutkan bahwa penyebab kematian pasien adalah akibat emboli paru. Kondisi merupakan suatu kegawatandaruratan yang menyertai kegawatdaruratan korban yang sementara hamil dan dalam persiapan persalinan. Emboli paru merupakan keadaan komplikasi yang tidak bisa diprediksi sebelumnya, dokter berada pada posisi sulit karena harus mengambil keputusan tindakan yang cepat dan prognosis pasien sangat jelek dengan konsekuensi kematian jika tidak dilakukan segera (Cito).

Kasus yang terjadi pada tahun 2010 ini meski telah diputus bebas murni oleh pengadilan negeri Manado, tapi entah bagaimana kelanjutannya secara tidak diduga lantas divonis 10bulan pada tingkat kasasi MA.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada semua strata kepengurusan dan juga anak organisasi menolak putusan itu karena bertentangan dengan aturan hukum perundang-undangan termasuk kaitannya dengan UU praktik Kedokteran sendiri. Selain itu terlihat adanya unsur penzaliman terhadap ketiga dokter tadi karena secara perdata mereka telah memberi ganti rugi atas tindakan yang sebenarnya hendak mereka lakukan dalam rangka menolong nyawa korban.

Bentuk sikap antisipatif yang diambil IDI khususnya di cabang kabupaten Bekasi adalah melakukan penguatan koordinasi dengan stakeholder lintas sektor agar profesi kedokteran tidak lagi menjadi korban karena ketidak sinkronisasian persepsi dalam pelaksanaan hukum ketika menyentuh profesi dokter. Selama ini IDI cabang kabupaten Bekasi telah memiliki MoU dengan jajaran kepolisian resort kabupaten Bekasi dalam penanganan sengketa medis di wilayah  kabupaten Bekasi. IDI cabang kabupaten Bekasi juga menyatakan menolak kriminalisasi dokter khususnya yang melanda dokter di Manado. Bentuk keprihatinan dilakukan doa bersama di sekretariat IDI kabupaten Bekasi dan menghimbau para dokter mengenakan pita hitam sebagai tanda dukungan dan keprihatinan terhadap masalah ini.

Pertemuan yang dipimpin oleh ketua IDI kabupaten Bekasi, dr. Hj. Noor Arida Sofiana, MBA dihadiri oleh para pengurus IDI cabang Kabupaten Bekasi bersama anggota-anggota baik dokter, dokter spesialis kandungan maupun dokter spesialis lainnya. Antara lain yang hadir adalah: dr. Deden Djatnika, SpPD,  dr. Agung S. Adi, SpAn,   dr. Natalina Soesilawati, SpA, dr. Purwanto Wahyu Irawan, SpA(K),  dr. Ahlan Suparno, SpOG, dr. Fauzul Guswar, SpOG, dr. Nancy Liona, SpOG, dr. Surosos, SpOG, dr. Diyah Metta, SpOG, dr. Ridwan Abbas, SpOG, dr. Veni Sri Sondani, MARS, dr. Yanto Tatang, SH, dr. M.Iman Prasetyo, MARS dan sejumlah dokter lainnya.

Sumber : http://www.idionline.org

Leave a Reply

Your email address will not be published.